BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

6.23.2010

fatahillah

adalah seorang
Ulama Besar dan Muballigh yang lahir
turun-temurun dari para Ulama keturunan
cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husayn.
Fatahillah adalah tokoh yang dikenal
mengusir Portugis dari pelabuhan
perdagangan Sunda Kelapa dan memberi
nama "Jayakarta" yang berarti Kota
Kemenangan, yang kini menjadi kota
Jakarta. Ia dikenal juga dengan nama
Falatehan. Ada pun nama Sunan Gunung
Jati dan Syarif Hidayatullah, yang sering
dianggap orang sama dengan Fatahillah,
kemungkinan besar adalah mertua dari
Fatahillah.
Latar belakang
Ada beberapa pendapat tentang asal
Fatahillah. Satu pendapat mengatakan ia
berasal dari Pasai, Aceh Utara, yang
kemudian pergi meninggalkan Pasai ketika
daerah tersebut dikuasai Portugis.
Fatahillah pergi ke Mekah, lalu ke tanah
Jawa, Demak, pada masa pemerintahan
Raden Trenggono. Ada pendapat lain yang
mengatakan bahwa Fatahillah adalah putra
dari raja Makkah (Arab) yang menikah
dengan putri kerajaan Pajajaran. Pendapat
lainnya lagi mengatakan Fatahillah
dilahirkan pada tahun 1448 dari pasangan
Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda,
pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim
dari Palestina, dengan Nyai Rara Santang,
putri dari raja Pajajaran, Raden Manah Rasa.
Ada sumber sejarah yang mengatakan
sebenarnya ia lahir di Asia Tengah
(mungkin di Samarqand), menimba ilmu ke
Baghdad, dan mengabdikan dirinya ke
Kesultanan Turki, sebelum bergabung
dengan Kesultanan Demak.
Hubungan antara Sunan Gunung Jati
dan Fatahillah
Penelitian terakhir menunjukkan Sunan
Gunung Jati tidak sama dengan Fatahillah.
Sunan Gunung Jati (SGJ) adalah seorang
Ulama Besar dan Muballigh yang lahir
turun-temurun dari para Ulama keturunan
cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husayn.
Nama asli SGJ adalah Syarif Hidayatullah
putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam
putra Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar
adalah Musafir besar dari Gujarat, India
yang memimpin putra-putra dan cucu-cucu
nya berdakwah ke Asia Tenggara, dengan
Campa (pinggir delta Mekong, Kampuchea
sekarang) sebagai markas besar. salah satu
putra Syekh Jamaluddin Akbar (lebih
dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar,SMA)
adalah Syekh Ibrahim Akbar (ayahanda
Sunan Ampel).
Bakat keruhaniyan dan kepemimpinan SMA
tampak jelas turun ke dalam diri SGJ.
Sehingga bagi kaum Sufi beliau (SGJ)
adalah pemimpin spiritual hingga kini
untuk wilayah nusantara, sedangkan bagi
sejarawan SGJ adalah peletak dasar
Kesultanan Cirebon dan Banten.
Sedangkan Fatahillah adalah seorang
Panglima Pasai, bernama Fadhlulah Khan (F
Kh), orang Portugis melafalkannya sebagai
Falthehan. Ketika Pasai dan Malaka direbut
Portugis,beliau hijrah ke tanah Jawa untuk
memperkuat armada kesultanan-
kesultanan Islam di Jawa (Demak, Cirebon
dan Banten) setelah gugurnya Raden Abdul
Qadir bin Yunus ( Pati Unus, menantu Raden
Patah Sultan Demak pertama).
Dalam wawancara dengan majalah Gatra di
akhir dekade 90, alm. Sultan Sepuh Cirebon
juga mengkonfirmasi perbedaan 2 tokoh
besar ini dengan menunjukkan bukti 2
makam yang berbeda. Syarif Hidayatullah
yang bergelar Sunan Gunung Jati
sebenarnya dimakamkan di Gunung
Sembung, sementara Fatahillah (yang
menjadi menantu beliau dan Panglima
Perang pengganti Pati Unus) dimakamkan
di Gunung Jati.
Menurut Saleh Danasasmita sejarawan
Sunda yang menulis sejarah Pajajaran
dalam bab Surawisesa, Fadhlullah Khan
masih berkerabat dengan Walisongo
karena kakek buyut beliau Zainal Alam
Barakat adalah adik dari Nurul Alam Amin
(kakek Sunan Gunung Jati) dan kakak dari
Ibrahim Zainal Akbar (ayahanda Sunan
Ampel) yang semuanya adalah putra-putra
Syekh Maulana Akbar dari Gujarat,India.
«Ada 2 kemungkinan datangnya Fadhlullah
Khan dari Pasai.»
Kemungkinan Pertama beliau sudah
menjadi anak buah Pati Unus dan
bergabung dengan pelarian Malaka ketika
Pati Unus memimpin armada Islam tanah
Jawa menyerang Malaka 1513 dan 1521,
tetapi beliau termasuk yang selamat dalam
perang besar 1521 (seperti Raden Abdullah
putra Pati Unus), setelah Armada Gabungan
kembali ke tanah Jawa diangkat menjadi
pengganti Pati Unus sebagai Panglima
Armada Islam Gabungan tanah Jawa dan
dinikahkan oleh Sunan gunung jati dengan
putri beliau, Ratu Ayu janda Pati Unus
untuk memperkuat kekerabatan.
Kemungkinan ke 2 adalah, beliau tidak ikut
perang Malaka 1513 & 1521, tapi sudah
hijrah lebih dulu ke tanah Jawa setelah
jatuhnya Pasai 1512, 9 tahun kemudian
diangkat oleh Sunan Gunung Jati
menggantikan Pati Unus yang gugur
setelah dinikahkan dengan Ratu Ayu, putri
Sunan Gunung Jati yang ditinggal Pati
Unus.
Analisis kami mengkompromikan 2
kemungkinan diatas adalah setelah
jatuhnya Malaka (1511) kemudian Pasai
(1512), bisa dikatakan seluruh tokoh besar
dan para Panglima Muslim dari Pasai dan
Malaka yang selamat kemudian hijrah ke
tanah Jawa sebagai satu-satunya basis
Kerajaan Islam yang masih exist (di Asia
Tenggara) dan sangat aneh bila kemudian
tidak ikut bergabung dengan Armada Islam
tanah Jawa pimpinan Pati Unus dalam
ekspedisi 1521 yang sangat besar, selain
karena dendam yang belum terlampiaskan
terhadap Portugis, juga para Tokoh dan
Panglima Pasai dan Malaka (yang dalam
pengasingan di tanah Jawa) bila tak ikut
kewajiban Jihad pasti akan dikucilkan.\ Di
Demak dan Cirebon, F Kh mendapat gelar
Wong Agung Pasai, di Banten dapat gelar
Tubagus Pasai.
Ketika Pati Unus gugur dalam perang laut
dahsyat untuk merebut kembali Malaka
dari tangan Portugis, F Kh diangkat oleh
SGJ menggantikan Pati Unus sebagai
Panglima Armada Islam di tanah Jawa.
Raden Pati Unus yang gugur kemudian
dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor.
Kegagalan ekspedisi Malaka (1521)
membuat Kesultanan2 Islam di tanah Jawa
mengambil sikap defensif dan memancing
Portugis untuk datang. Sehingga Bulan Juni
1527, Portugis yang telah merasa diatas
angin mencoba menerobos Sunda Kelapa,
langsung diluluhlantakkan oleh armada
Islam dibawah pimpinan F Kh, kemenangan
besar ini kemudian dirayakan sebagai hari
lahir Jayakarta dan kemudian disebut
Jakarta. F Kh atau Tubagus Pasai diberi
gelar baru yaitu Fatahillah (yang berarti
Kemenangan Allah SWT).
Setelah kemenangan ini F Kh diangkat
Sunan Gunung Jati sebagai Penasehat
Kesultanan Cirebon, sedangkan kota
Jayakarta diserahkan ke menantu FKh, yaitu
Tubagus Angke. Setelah wafatnya Tubagus
Angke diserahkan kepada putra beliau yaitu
Pangeran Jayakarta yang kemudian pada
1619 karena kalah dalam konflik dengan
VOC, meninggalkan Jayakarta yang
dibumihanguskan yaitu pemusnahan
dengan cara pembakaran
barang,gedung,bangunan agar tak dapat
dipakai oleh musuh.

1 comments:

Anonymous said...

halahhh ngomong opo dik dik saya denny al gifary

Post a Comment